Imunisasi MR di Kota Solok Capai 80 Persen


SOLOKMONITOR.COM, - Di tengah pro dan kontra terhadap imunisasi Measles Rubella (MR), pelaksanaan Imunisasi MR di Kota Solok baru mencapai  80% hingga akhir tahun 2019, Hal itu untuk mengejar rendahnya realisasi tahun lalu yang hanya menyentuh angka 8.713 atau 43,9 %. Masalah terbesar dalam kampanye imunisasi MR kali ini adalah penolakan terhadap vaksin MR produksi Serum Institute of India (SII). 

Sebagian masyarakat menolak vaksin ini sesudah beredar di media sosial berita palsu tentang akibat negatif imunisasi MR, sebenarnya, program imunisasi atau vaksinasi merupakan salah satu kemajuan teknologi kesehatan yang dianggap banyak menyelamatkan nyawa manusia pada era modern. Di lain sisi, Majelis Ulama Indonesia, sudah mendukung melalui Fatwa No 33 Tahun 2018 yang menyatakan vaksinasi MR dibolehkan karena kondisi darurat. Namun kondisi pro dan kontrak masih saja menyeruak, yang menyebabkan sebagian masyarakat masih enggan mengizinkan anaknya diimunisasi MR.

Dari data dinas kesehatan kota Solok, Pencapaian Imunisasi Measless (campak) dan Rubella (MR) di Kota Solok baru mencapai 8.713 anak atau 43,9 persen dari target 19.422 anak dari 21 Agustus 2018 hingga saat ini. Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok dr. Ambun Kadri merincikan, sepanjang lebih kurang empat bulan, realisasi di tingkat posyandu baru mencapai 2.418 anak atau 45,6 % dari target 5.297 anak. Sedangkan imunisasi anak tingkat Paud dan TK, Dari sasaran 2.372 anak, baru terealisasi terhadap 663 anak atau sekitar 28 persen. Sementara tingkat sekolah dasar, dari sasaran 14.829 anak yang terealisasi baru 5.632 anak dengan presentase 30,6 persen.

Dikatana Ambun, masih rendahnya capaian realisasi vaksin MR di kota Solok dipicu berbagai persoalan, salah satunya karena masih banyak masyarakat yang belum menerima vaksin MR lantaran berbagai isu negatif yang berkembang. Padahal sebutnya, vaksin MR sangat penting bagi anak untuk mencegah terus berkembangnya kasus penyakit campak dan Rubella yang cenderung menunjukkan angka peningkatan tiap tahunnya. "Vaksin MR ditujukan bagi anak usia 9 bulan sampai 15 tahun kemudian diikuti dengan introduksi imunisasi Rubella kedalam program imunisasi nasional memakai vaksin MR menggantikan vaksin campak yang selama ini dipakai," kata Ambun.

Imunisasi MR merupakan salah satu upaya untuk melindungi anak Indonesia dari penyakit kelainan bawaan, seperti gangguan penglihatan, kelainan jantung dan lainnya yang disebabkan adanya infeksi rubella pada saat kehamilan. Pihaknya berharap, pelaksanaan imunisasi MR untuk tahun ini dapat berjalan sebagaimana mestinya dan tidak lagi menuai penolakan dari masyarakat. Apalagi, sebelumnya, MUI telah mengeluarkan fatwa terkait diperbolehkannya menggunakan vaksin yang diproduksi oleh Serum Institut Of India (SII) itu.

 “Diharapkan tidak ada lagi keragu-raguan di masyarakat dengan dikeluarkannya Fatwa MUI terkait diperbolehkannya penggunaan Vaksin MR dengan segala pedoman pelaksanaannya," tutup Ambun Kadri.(Red)