Indeks Kota Cerdas Indonesia 2018, Kota Solok Raih Peringkat 3


SOLOKMONITOR.COM, - Kota menjadi semakin signifikan perannya, berbagai fenomena dan dinamika di Perkotaan juga menjadi tantangan dalam mengelola kota dengan cara yang lebih baik dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Begitupun Kota Solok, sepanjang tahun 2018 dinilai telah memiliki inisiatif dalam mencari solusi, terutama dalam penerapan Kota Cerdas. Upaya itu pun berbuah manis, mengawali tahun 2019 ini, Kota Solok kembali berprestasi, kali ini Kota Solok meraih Penghargaan Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2018, dengan peringkat ketiga dalam kategori Kota Kecil.

Penghargaan tersebut diterima oleh Walikota Solok Zul Elfian dari CEO Kompas Group Of Media, Andy Budiman, di ruang pertemuan Maoke, Gedung Unit 2, Lantai 6, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, Rabu (9/1).  Pada kesempatan yang sama Walikota Solok Zul Elfian yang hadir, turut didampingi Kepala Subbag Penghubung dan Kerjasama Rantau Bagian Humas Protokol Setda Kota Solok Yopi Permana, dan Sekretaris Diskominfo Lusya Adelina.

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas peran pemerintah dalam mengelola Kota Cerdas. Banyak pakar memprediksi pada tahun 2050 nanti, diperkirakan 9,6 miliar penduduk dunia hidup di perkotaan, ada pula yang memprediksi akan muncul 29 megapolitan dalam waktu kurang dari 10 tahun mendatang. Akibatnya, masalah-masalah bermunculan, inisiatif dan penyelesaian inilah yang kemudian diapresiasi oleh Kompas dengan menyusun Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2018.

Penyusunan indeks ini berdasarkan pada rumus lingkaran kota cerdas mulik Boyd Cohen, yaitu enam pilar kota cerdas yang menjadi inidkator, terdiri dari lingkungan, mobilitas, pemerintahan, ekonomi, masyarakat dan lingkungan hidup. Enam pilar itu kemudian diturunkan menjadi puluhan indikator, ditambah dengan data yang dikumpulkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan lembaga lainya. Sebanyak 12 pakar diambil pendapatnya, agar sesuai dengan kondisi Indonesia, untuk digunakan dalam memboboti data yang telah diolah. Hasilnya pun muncul dalam indeks dan rangking tiap kota di Indonesia.

Survei Indeks Kota Cerdas yang digagas Kompas ini, telah melalui serangkaian tolak ukur dan metode yang bersumber dari data valid dari sejumlah institusi. Penghargaan ini dimaksudkan untuk menghargai daerah-daerah yang telah berinisiatif mencari solusi, disamping itu juga untuk mendorong daerah-daerah lain untuk menerapkan konsep-konsep kota cerdas untuk meningkatkan kualitas hidup warganya. Pada kegiatan itu selain pemberian penghargaan juga diadakan diskusi untuk membahas tantangan penerapan kota cerdas dimasa yang akan datang, bersama dua pakar dan kepala daerah dari kota-kota yang menjadi finalis IKCI 2018.

Kota Solok sendiri masuk dalam kategori kota kecil dengan rangking ketiga dengan skor 51,54, dalam pemeringkatannya pada skala 1 – 100, dengan skor terbanyak dari aspek masyarakat senilai 13,3 disusul dengan aspek kualitas hidup dengan skor 9,12 dan aspek lingkungan dengan skor 7,37. Sementara untuk aspek ekonomi 5,63, aspek pemerintahan 5.36 dan aspek mobilitas 5.30. Sementara untuk peringkat pertama adalah Kota Padang Panjang dan di peringkat kedua adalah Kota Sungai Penuh.

Kota Solok adalah kota kecil yang tediri dari 2 kecamatan dan 13 kelurahan, dengan luas wilayah 57,64 km2  5.764 ha, dan jumlah penduduk sekitar 72.927 jiwa. Ditambah dengan posisi kota yang strategis, berada di jalur perlintasan, Kota Solok dinilai sangat tepat untuk dilakukan penerapan Smart City, yang telah dalam pengembangan dan pengelolaanya menerapkan inovasi yang berkesinambungan antara ekonomi, sosial dan lingkungan. Penerapan Smart Economy, Smart People, Smart Government, Smart Branding, Smart Environment dan Smart Living, akan memperbaiki pelayanan publik, membuat Inovasi yang selama ini bersifat sporadis menjadi lebih terstruktur, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan daya saing daerah.

Walikota Solok Zul Elfian mengatakan inovasi kota solok menjadi jawaban atas permasalah masyarakat, terutama pada pelayanan publik. Terdapat dua isu strategis yakni dibidang ekonomi dan bidang reformasi birokrasi. Solusi yang dilakukan Pemko Solok terbukti ampuh, dengan adanya peningkatakan nilai tambah perdagangan dan jasa, pengembangan UMKM dan Koperasi, peningkatan daya saing pariwisata, pengembangan agribisnis, peningkatan nilai investasi, pemanfaatan teknologi informasi untuk teknologi. Kemudian perbaikan tata kelola pemerintahan, peningkatan pelayanan publik, maturitas sistem pengendalian internal pemerintah, penyelesaian permasalahan kota, dan menurunnya tingkat kemiskinan.

Untuk persentase penduduk miskin, terus menurun, data terakhir menunjukan sebesar 3,66% pada tahun 2017, namun ketimpangan penduduk miskin semakin lebar ditandai dengan dua indeks, yakni indeks keparahan 0,23 dan indeks kedalaman kemiskinan 0,62. Di sektor pendidikan dan kesehatan, peningkatan nilai IPM Kota Solok sebesar 0,4 poin, dibidang transportasi belum banyak terdapat angkutan masal. Untuk kesenjangan sosial, jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial sebanyak 4.960, dan jumlah kasus Pekat sebanyak 31, sementara angka kriminalitas dari total 435, sebanyak 278 telah diselesaikan. Terkait polusi, kota solok sangat minim masalah polusi.

Dalam prosesnya, Pemko Solok menggerakan seluruh OPD, melalui rapat koordinasi inovasi dan monitoring inovasi, memasukkan Inovasi sebagai indikator penilaian perjanjian kinerja OPD dengan kepala daerah, asistensi oleh Tim inovasi daerah dan pemberian reward kepada OPD/ASN yang berinovasi. Dampak positif yang dihasilkan, ASN/OPD menjadi lebih termotivasi dan mudah berinovasi, OPD harus keluar dari budaya busines as usual (terjebak dalam rutinitas), pelayanan publik lebih baik dan peningkatan kinerja dalam bentuk efektifitas dan efesiensi anggaran.

Walikota bersyukur dan berterima kasih kepada seluruh stakeholders yang telah memberikan kontribusi terbaiknya dalam pencapaian penghargaan ini, beliau berharap pada edisi Indeks Kota Cerdas kedepan Peringkat Kota Solok harus lebih baik dari saat ini. "Dengan upaya memaksimalkan kinerja pemerintah dalam melayani masyarakat secara umum dan secara khusus dengan memetakan, menetapkan serta memaksimalkan prioritas variabel penilaian indeks kota cerdas tersebut, kita berharap kedepannya Kota Solok bisa lebih baik," harap Zul Elfian.(Red)